Selasa, 07 Mei 2013

Berpikir Induktif dan Penalarannya


Berpikir induktif 
  Induksi adalah cara mempelajari sesuatu yang bertolak dari hal-hal atau peristiwa khusus untuk menentukan hukum yang umum (Kamus Umum Bahasa Indonesia, hal 444W.J.S.Poerwadarminta. Balai Pustaka 2006)
  Induksi merupakan cara berpikir dimana ditarik suatu kesimpulan yang bersifat umum dari berbagai kasus yang bersifat individual. Penalaran secara induktif dimulai denganmengemukakan pernyataan-pernyataan yang mempunyai ruang lingkup yang khas dan terbatasdalam menyusun argumentasi yang diakhiri dengan pernyataan yang bersifat umum (filsafatilmu.hal 48 Jujun.S.Suriasumantri Pustaka Sinar Harapan. 2005)
  Berpikir induktif adalah metode yang digunakan dalam berpikir dengan bertolak dari hal-halkhusus ke umum. Hukum yang disimpulkan difenomena yang diselidiki berlaku bagi fenomenasejenis yang belum diteliti. Generalisasi adalah bentuk dari metode berpikir induktif.(www.id.wikipedia.com) 
  Jalan induksi mengambil jalan tengah, yakni di antara jalan yang memeriksa cuma satu buktisaja dan jalan yang menghitung lebih dari satu, tetapi boleh dihitung semuanya satu persatu.Induksi mengandaikan, bahwa karena beberapa (tiada semuanya) di antara bukti yangdiperiksanya itu benar, maka sekalian bukti lain yang sekawan, sekelas dengan dia benar pula. 
  Buat contoh penegasan kita kembali pada masyarakat Yunani, masyarakat yang sebenarnyamerintis kesopanan manusia. Lama sudah terpendam dalam otaknya Archimedes, pemikir Yunani yang hidup 250 tahun sebelum Masehi, persoalan: apa sebab badan yang masuk barangyang cair itu, jadi enteng kekurangan berat? Ketika mandi, maka jawab persoalan tadi tiba-tibatercantum di matanya dan kegiatan yang memasuki jiwanya menyebabkan dia lupa akan adatistiadat negara dan bangsanya. Dengan melupakan pakaiannya, ia keluar dari tempat mandinyadengan bersorak-sorakkan “heureuka” saya dapati, saya dapati, adalah satu contoh lagi darikuatnya nafsu ingin tahu dan lazatnya obat haus “ingin” tahu itu. Archimedes menjalankanexperiment yang betul, ialah badannya sendiri, yang jadi benda yang dicemplungkan ke dalamair buat mandi. Dengan cara berpikir, yang biasa dipakainya sebagai pemikir besar, ia bisa bangunkan satu undang yang setiap pemuda yang mau jadi manusia sopan mesti mempelajaridalam sekolah di seluruh pelosok dunia sekarang. 
  Menurut undang Archimedes, maka kalau benda yang padat (solid) terbenam pada barang cair,maka benda tadi kehilangan berat sama dengan berat zat cair yang dipindahkan oleh bendaitu.Tegasnya kalau berat Archimedes di luar air umpamanya B gram dan berat air yangdipindahkan oleh badan Achimedes b gram, maka berat Archimedes dalam air tidak lagi Bgram, melainkan (B-b) gr. 
  Dengan contoh dirinya sendiri sebagai benda dan air sebagai barang cair, maka simpulan yangdidapatkan Archimedes dalam tempat mandi itu belumlah boleh dikatakan undang. Semua bendadalam alam, kalau dicemplungkan ke dalam semua zat cair mestinya kekurangan beratsama dengan berat-zat cair yang dipindahkan oleh benda itu. Kalau semuanya takluk padakesimpulan tadi, barulah kesimpulan itu akan jadi Undang dan barulah Archimedes tak akandilupakan oleh manusia sopan, manusia yang betul-betul terlatih sebagai bapak undang itu.(Madilog.hal 100-101 Tan Malaka, Pusat Data Indikator)
MACAM-MACAM PENALARAN INDUKTIF
1. GENERALISASI
   Generalisasi adalah penalaran induktif dengan cara menarik kesimpulan secara umum berdasarkan sejumlah data. Jumlah data atau peristiwa khusus yang dikemukakan harus cukup dan dapat mewakili.
Contoh :
Generalisasi juga di sebut induksi tidak sempurna ( lengkap ). Guna menghindari generalisasi yang terburu – buru, Aristoteles berpendapat bahwa bentuk induksi semacam ini harus di dasarkan pada pemeriksaan atas seluruh fakta yang berhubungan, tapi semacam ini jarang di capai. Jadi kita harus mencari jalan yang lebih prakis guna membuat generalisasi yang sah.

Tiga cara pengujian untuk menentukan generalisasi:
a). Menambah jumlah kasus yang di uji, juga dapat menambah probabilitas sehatnya generalisasi. Maka harus seksama dan kritis untuk menentukan apakah generalisasi ( mencapai probabilitas ).
b). Hendaknya melihat adakah sample yang di selidiki cukup representatif mewakili kelompok yang di periksa.
c). Apabila ada kekecualian, apakah juga di perhitungkan dan di perhatikan dalam membuat dan melancarkan generalisasi?


2. ANALOGI
   Pemikiran ini berangkat dari suatu kejadian khusus ke suatu kejadian khususnya lainnya, dan menyimpulkan bahwa apa yang benar pada yang satu juga akan benar pada yang lain.
Contoh ;
Sartono sembuh dari pusing kepalanya karena minum obat ini.
Pengetahuan secara analogis adalah suau metode yang menjelaskan barang – barang yang tidak biasa dengan istilah – istilah yang di kenal ide – ide baru bisa di kenal atau dapat di terima apabila di hubungkan dengan hal – hal yang sudah kita ketahui atau kita percayai.
Analogi Induktif adalah suatu cara berfikir yang di dasarkan pada persamaan yang nyata dan terbukti. Jika memiliki suatu kesamaan dari yang penting, maka dapat di simpulkan serupa dalam beberapa karakteristik lainnya. Apabila hanya terdapat persamaan kebetulan dan perbandingan untuk sekedar penjelasan, maka kita tidak dapat membuat suatu kesimpulan.

  
INDUKSI DALAM METODE EKSPOSISI

   Eksposisi adalah salah satu jenis pengembangan paragraf dalam penulisan yang dimana isinya ditulis dengan tujuan untuk menjelaskan atau memberikan pengertian dengan gaya penulisan yang singkat, akurat, dan padat.
Karangan ini berisi uraian atau penjelasan tentang suatu topik dengan tujuan memberi informasi atau pengetahuan tambahan bagi pembaca. Untuk memperjelas uraian, dapat dilengkapi dengan grafik, gambar atau statistik. Sebagai catatan, tidak jarang eksposisi ditemukan hanya berisi uraian tentang langkah/cara/proses kerja. Eksposisi demikian lazim disebut paparan proses.

Langkah menyusun eksposisi:
• Menentukan topik/tema
• Menetapkan tujuan
• Mengumpulkan data dari berbagai sumber
• Menyusun kerangka karangan sesuai dengan topik yang dipilih
• Mengembangkan kerangka menjadi karangan eksposisi.


SALAH NALAR

  Salah nalar adalah kesalahan struktur atau proses formal penalaran dalam menurunkan kesimpulan sehingga kesimpulan tersebut menjadi tidak valid. Jadi berdasarkan pengertian tersebut, salah nalar bisa terjadi apabila pengambilan kesimpulan tidak didasarkan pada kaidah-kaidah penalaran yang valid. Terdapat beberapa bentuk salah nalar yang sering kita jumpai, yaitu: menegaskan konsekuen, menyangkal antiseden, pentaksaan, perampatan-lebih, parsialitas, pembuktian analogis, perancuan urutan kejadian dengan penyebaban, serta pengambilan konklusi pasangan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar